MENGATASI WRITER BLOCK

Penulis : Gunawan

KELAS BELAJAR MENULIS NUSANTARA  PBPGRI

Gelombang ke-28 Pertemuan 7

Resume ke    : 7

Gelombang   : 28

Tanggal          : 23 Januari 2023

Tema              : Mengatasi Writer's Block

Narasumber  : Ditta Widya Utami, S.Pd., Gr.

Moderator      : Raliyanti, S.Sos., M.Pd


Sumber : KBMN Gelombang 28 Pertemuan ke-7


Assalamualaikum wr. wb.
Salam sejahtera untuk kita semua
Semangat....semangat....semangat....!!!

Hari ini senin 23 Januari 2023 dimulai kembali pertemuan ketujuh yang kebetulan cuti bersama dalam rangka Imlek, di Bekasi angin sepoi-sepoi menambah suasana semakin syahdu. Pertemuan KBMN kali ini akan digawangi oleh ibu Raliyanti, S.Sos., M.Pd dan narasumber Ibu Ditta Widya Utami, S.Pd, Gr. 
Moderator membagi kegiatan menjadi beberapa sesi yaitu : 
1. Pembukaan
2. Paparan Materi
3. Tanya Jawab
4. Penutup
Untuk tema yang disajikan malam ini adalah "Mengatasi Writer's Block" dimulai pukul 19.00-21.00 WIB. Judul tema yang menarik yang perlu dikulik lebih dalam.

BIONARASI NARASUMBER

Ditta Widya Utami, S.Pd.Gr. adalah salah satu guru IPA di SMPN 1 Cipeundeuy, Subang, Jawa Barat. Menikah dengan Muhammad Kholil, S.Pd.I. dan telah dikaruniai seorang anak laki-laki bernama Muhammad Fatih Musyfiq. Selain aktif di MGMP, anak kedua dari pasangan Dastewi, S.Pd. dan Tia Makmur Setiana, S.Pd. ini juga aktif di bidang literasi. 

Riwayat pendidikan :
  1. SDN Cipeundeuy Subang (1996-2002)
  2. SMPN 1 Cipeundeuy Subang (2002-2005)
  3. SMAN 1 Purwakarta (2005-2008)
  4. Pendidikan Kimia UPI (2008-2012)
  5. PPG Daljab A3 UNM (2020)
Karya tunggal :
  1. Precious (2017-2019), a novel 12 chapter - tersedia di Wattpad
  2. Mengapa Tak Kau Tanyakan Saja (2019), a short story 10 chapter - tersedia di Wattpad
  3. Djogja Backpacker (2019), a short story 5 chapter - tersedia di Storial
  4. Buku "Lelaki di Ladang Tebu" (2020), kumpulan cerpen pendidikan
  5. Buku "Membongkar Rahasia Menulis" (2021), kumpulan tulisan selama mengikuti lomba blog PGRI bulan Februari
  6. Buku "Sepenggal Kisah Corona : Memoar Perjalanan Hidup Selama Satu Tahun Pandemi" (2021)
Buku karya bersama :
  1. Jejak Langkah Guru Subang (2019) - kumpulan best practice, MGMP IPA Subang
  2. Guru di Ladang Ilmu (2019) - kumpulan cerpen karya guru, Komunitas Pengajar Penulis Jawa Barat (KPPJB)
  3. Sepenggal Kisah di Ruang Cipta Pentigraf (2020) - KPPJB
  4. Dari Mata Air Hingga Muara (2020) - Literasi Subang Bihari dan Berwibawa (Lisangbihwa)
  5. Pelangi Jiwa (2020) - kumpulan kisah inspiratif, KPPJB
  6. Pena Digital Guru Milenial (2020) - kisah para guru blogger, PGRI
  7. Menyongsong Era Baru Pendidikan (2020) - bersama Prof. Eko Indrajit
  8. Pola Pembelajaran yang Efektif dari Rumah (2020) - Hasil Lomba Blog Hardiknas (PGRI) 
  9. Sumbu Saihu Lisangbihwa (Jan 2021) - antologi puisi Saihu, Saihula, Saihudan bersama Lisangbihwa
  10. Dendang Asa Dalam Untaian Kata (Jan 2021) - antologi pentigraf bersama KPPJB Regional Subang
  11. Meniti Asa : Kumpulan Kisah Awal Menjadi Guru (Feb 2021) - KPPJB
  12. Kelas Bertembok Pelangi (Agustus 2021) - FIMNesia
  13. Aku Bangga Jadi Anak Muslim - Jendela Puspita
Prestasi/Penghargaan yang pernah diraih :
  1. Peraih Parasamya Susastra Nugraha (100 Guru Penulis Jawa Barat) - 2020
  2. Peraih Parasamya Suratma Nugraha (Penggerak literasi) - 2020
  3. Penghargaan dari Dinas Kearsipan dan Perpustakaan (Disarpus) Kab. Subang sebagai donatur buku - 2020
  4. Penghargaan Bupati Subang (2020) diusulkan Disdikbud Kab. Subang, diberikan saat HUT PGRI dan Korpri
  5. Penghargaan Bupati Subang (2021) diusulkan Disarpus Kab. Subang, disampaikan saat HUT Subang ke-73
  6. Penghargaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Subang (2021) untuk guru berprestasi disampaikan saat Hardiknas
  7. Penghargaan Bupati Subang (2022)
Wow bukan, segudang prestasi yang ditorehkan oleh narasumber kita kali ini. Patut ditiru, semoga kita kedepannya dapat mengikuti jejak narasumber tentunya dengan konsistensi tinggi sehingga prestasi mengimbangi.

Pukul 19.07 WIB kegiatan dibuka oleh moderator ibu Raliyanti yang merupakan Tim Solid Omjay biasa di sapa Rali. Dulunya moderator sama juga peserta KBMN gelombang 20 bersama pak Dail fan bu Helwiyah. Di pukul 19.12 menyapa narasumber. 
Bu Ditta menyapa para peserta dengan memuji semangat para peserta gelombang 28 dengan diungkapkannya bukti bahwa resume yang dikumpulkan lebih banyak dan tulisannya bagus-bagus dari angkatan bu Ditta. Bu Ditta juga merupakan alumni KBMN gelombang ketujuh. 
Untuk menjadi penulis handal harus siap dengan prosesnya, tidak bisa instan diperlukan jam terbang yang cukup banyak Tak bisa instan tentu. Diperlukan jam terbang yang cukup banyak agar bisa menjadi seperti Omjay, Bunda Kanjeng, Pak Dail, Bunda Aam, Bu Rali, Mr. Bams, Prof. Eko, dan lainnya yang tak bisa  disebutkan satu per satu.
Bu Rali Saya sudah senang membaca buku-buku cerita sejak kecil (sebelum SD). Senang menulis sejak di sekolah dasar (dalam buku diary). Saat SMP, sering mengirim tulisan ke mading sekolah dan pernah menulis cerita di buku tulis yang dibaca bergiliran oleh teman-teman. Atas arahan guru Bahasa Inggris saat itu, juga menulis diary dalam bahasa Inggris. Ketika SMA, bu Ralimasih tetap menulis diary. Beberapa teman dekat yang membaca diary sempat berkomentar bahwa tulisannya sudah seperti novel. Namanya anak remaja, banyak emosi yang dituangkan dalam catatan Ditta remaja. Menulis apa pun yang kita rasakan bisa menjadi  self healing yang baik. Bahkan saat ini, beberapa psikolog ada yang menyarankan kepada para pasiennya untuk menulis sebagai salah satu cara mengatasi depresi.
Narasumber mengakui dengan kebiasaan menulis memiliki banyak manfaat. Misalnya ketika kuliah, narasumber pernah membuat buku Petualangan Kimia bersama rekan dan diikutsertakan dalam Lomba Kreativitas Mahasiswa di Jurusan. Alhamdulillah meraih posisi kedua. Di saat kuliah juga, menulis proposal bersama teman-teman dan berhasil mendapat dana hibah untuk asosiasi profesi dari Dikti hingga 40 juta. Di tahun 2009-2010 jumlah tersebut tentu sangat besar. Jadi disadari atau tidak menulis memiliki banyak manfaat. Ada yang menulis karena hobi, kebutuhan, tuntutan profesi, dan lain sebagainya. Apa pun alasannya, aktivitas menulis memang tak bisa lepas dari kita sebagai makhluk yang berbahasa dan berbudaya.
Lalu dari cerita narasumber apa kaitannya dengan Writer's Block. Pertama, mari kita samakan persepsi bahwa aktivitas menulis itu maknanya luas. Sebagaimana dalam kisah di awal, ada tulisan pribadi dalam bentuk diary, ada karya tulis ilmiah, ada cerpen, artikel, resume, dan sebagainya. Menulis adalah kata kerja yang hasilnya bisa sangat beragam. Oleh karena itu tak hanya novelis, cerpenis, jurnalis atau blogger, namun ada juga copywriter yang tulisannya mengajak orang untuk membeli produk, ada content writer yang bertugas membuat tulisan profesional di website, ada script writer penulis naskah film atau sinetron, ada ghost writer, techincal writer, hingga UX writer, dan lain-lain.
Faktanya, penulis-penulis tersebut masih bisa terserang virus WB alias Writer's Block. Tak peduli tua atau muda, profesional atau belum, WB bisa menyerang siapa pun yang masuk dalam dunia kepenulisan. Oleh karena itu, penting bagi seorang penulis untuk mengenali WB dan cara mengatasinya.
Sederhananya, WB adalah kondisi dimana kita mengalami kebuntuan menulis. Tak lagi produktif atau berkurang kemampuan menulisnya. Hal ini bisa terjadi dengan disadari atau pun tidak. Istilah writer's block sebenarnya sudah ada sejak tahun 1940an. Diperkenalkan pertama kali oleh Edmund Bergler, seorang psikoanalis di Amerika.Berkaca dari pengalaman, WB ini bisa terjadi berulang. Mereinfeksi kita sebagai penulis. Itulah mengapa saya katakan WB ini sebagai "virus" yang sesekali bisa aktif bila kondisinya memungkinkan. Ibarat penyakit, tentu akan lebih mudah disembuhkan bila kita mengetahui faktor penyebabnya, bukan? Begitu pula dengan WB. Agar bisa terhindar atau segera terlepas dari WB, maka kita perlu mengenali penyebabnya.
Sumber : KBMN Gelombang 28 Pertemuan 7

Mencoba metode/topik baru dalam menulis sebenarnya bisa menjadi penyebab sekaligus obat untuk WB. Misal ketika jadi penyebab: Ada orang yang senang menulis cerpen atau puisi. Kemudian tiba-tiba harus menulis KTI yang tentu saja memiliki struktur dan metode penulisan yang berbeda. Bila tak lekas beradaptasi, bisa jadi kita malah terserang WB.
Dalam Kamus Psikologi, stres diartikan sebagai ketegangan, tekanan, tekanan batin, tegangan dan konflik. Lelah fisik/mental akibat aktivitas harian yang padat juga dapat memicu stress. Pada akhirnya, jangankan menulis, kita bisa merasa jenuh dan suntuk. Terserang WB deh.
Maka, mencoba hal baru dalam menulis bisa jadi alternatif solusi. Mempelajari hal-hal baru yang berbeda dg sebelumnya pasti menyenangkan. Beberapa teman dan narasumber sendiri terkadang memilih untuk sejenak rehat dan melakukan hal yang disukai untuk refreshing.
Membaca buku-buku ringan untuk cemilan otak juga bisa jadi solusi mengatasi WB. Biar bagaimanapun, WB bisa terjadi karena kita belum bisa mengekspresikan ide dalam bentuk kata. Dengan membaca, kita bisa menambah kosa kata. Pada akhirnya, jika diteruskan insya Allah bisa sekaligus mengatasi WB. 
Terakhir yang bisa menyebabkan WB adalah terlalu perfeksionis. Ibu Bapak hebat, masih ingat kisah narasumber menulis diary berbahasa Inggris yang di ceritakan di awal? Jika narasumber membuka kembali diary berbahasa Inggris yang di tulis saat duduk di kelas 2 SMP, narasumber akan tersenyum bahkan tertawa sendiri. Bagaimana tidak? Grammar nya saja banyak yang tidak sesuai, tapi saya tetap PD menulis tak hanya satu, ada dua atau tiga diary. Tapi, justru itulah salah satu kunci menghadapi WB. Bila saat itu terlalu perfeksionis, terlalu memikirkan apakah tulisansudah sesuai kaidah atau belum, niscaya diary berbahasa Inggris itu tidak akan pernah rampung. Kondisi menulis dimana kita tidak memikirkan salah eja, salah ketik, koherensi dan sebagainya, ternyata dalam dunia psikologi dikenal dengan istilah free writing atau menulis bebas.
Berikut closing statemen dari ibu Ditta :

Ada pepatah yang mengatakan:

_"It doesn't matter how brilliant is your brain. If u do not speak up, it would be zero."_

Mari, tuangkan dan sampaikan ide ide kita, pemikiran pemikiran kita, perasaan perasaan kita agar menjadi lebih bermakna.

Demikian materi untuk pertemuan kali ini. Semoga kita dapat berjumpa lagi dipertrmhan selanjutnya.

Wassalamualaikum wr. wb.

Salam satu pena....!

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Proofreading, Cek and Ricek Sebelum Cetak Tulisan !

THE BEGINNING

GR PELANTIKAN PENGURUS OSIS